Rabu, 13 November 2013
Silly Bandwagon Foolery Follower

Follow. Ya, satu kata ini rasanya cukup mewakili kata sejenis lainnya yang pada hakikatnya adalah sama. Kalau boleh sedikit menarik mundur ke belakang, kata do-follow -yang dulu sudah panjang lebar kita bicarakan disini, lebih dulu banyak terdengar oleh blogger yang sebenarnya juga berkonsentrasi bagaimana memperlebar jangkauan tautan dari blognya. Hal ini tidak lain adalah bentuk yang saat itu menjadi salah satu cara untuk bersosialisasi. Begitu pula dengan sekarang, kata "follow" juga merepresentasikan situasi terhubungnya dua individu dalam satu jejaring sosial yang sama. Terdengar sangat wajar atau bahkan sangat bermanfaat, tapi entah apa jadinya jika semua dilakukan atas dasar... "Following".
Dulu, ketika masih duduk di bangku SD, saya seringkali tidak mampu menemukan alasan lain ketika ibu saya atau guru-guru disekolah saya bertanya "mengapa kamu melakukan ini?", "mengapa kamu berbuat itu?" dan berbagai pertanyaan sejenis yang pada dasarnya hanya sekedar meminta pertanggungjawaban atas perbuatan "memanjat pohon tetangga dan meminta buahnya (mencuri tepatnya :p )", atau atas perbuatan "menyulut petasan saat hampir semua orang sedang shalat tarawih", selain dua jawaban pamungkas yaitu diam seribu bahasa atau sedikit curang dengan mengatakan "ikut-ikutan teman". Sebenarnya jawaban-jawaban itu adalah jalan terakhir supaya lebih bisa selamat dari sanksi. Saya yakin walaupun tidak semua mengalami hal yang sama, tapi juga tidak sedikit yang mengalami hal serupa (setidaknya kawan-kawan main saya dulu).
Saat ini, disaat hampir semua kebandelan anak-anak seusia itu sudah berubah wujud menjadi bentuk lain, ternyata alasan ikut-ikutan belum juga berubah. Tentu saja jenis kenakalan mencuri buah dari pohon orang lain tidak lagi populer untuk anak-anak jaman sekarang atau bahkan hanya akan menjadi dongeng layaknya kisah kancil dan mentimun petani waktu itu. Hal ini patut disyukuri mengingat sebagaimanapun ringannya kebandelan itu, tetap saja tidak ada maaf bagi mereka yang mengambil hak orang lain tanpa ijin, bukan?. Tapi kita tidak boleh berhenti sampai disini. Jika kita perhatikan lebih jauh, sebenarnya kemajuan teknologi yang dinikmati anak-anak sekarang juga tetap membuka peluang semakin meningkatnya kualitas kriminal didalamnya. Tak perlulah diuraikan satu persatu soal ini. Hampir semua kita paham betul mana-mana yang memang buruk, akibat dampak teknologi ini.
Tapi satu yang menarik bagi saya, bahwa saat ini, perilaku ikut-ikutan bukan lagi menjadi bualan anak kecil semata. Tapi hampir seluruh wilayah usia. Apakah ini tidak lebih buruk?.. Kita semua sadar, apa gunanya kita memarahi anak kecil?.. tapi jika perilaku ini terjadi pada mereka yang tidak lagi disebut anak kecil, lalu dengan cara apa menasehatinya?.. atau mungkin tidak perlu?.. :)
Lihat saja apa yang sudah terjadi di Indonesia, menyikapi datangnya social network lengkap beserta dengan perilaku khasnya yaitu Following the others atau Share atau Likes atau persetan apapun lah namanya. Anak-anak kecil, selalu siap mengikuti apa yang kawan mereka mainkan di tempat permainan online. Sedikit beranjak remaja, mereka mengikuti gadget apa yang kawan mereka gunakan untuk ber"sosialisasi". Lebih dewasa lagi mereka mengikuti apa yang kawan atau kerabat mereka beli dan menjadi trending topic di internet. Bahkan tidak sedikit para ibu yang mengikuti ibu lainnya yang memindahkan ruang gosip diteras rumah ke dunia maya. Atau yang lebih menjijikkan adalah ketika semua orang dalam berbagai kalangan usia ini sudah ber"konsolidasi" untuk ikut-ikutan dalam kumpulan "Sejuta orang mendukung A, B, C", atau "Sejuta orang menolak A, B, C". Ah, lalu dimana letak baiknya?...
Tentu saja ada, dan tidak sedikit. Bagaimanapun juga apa yang tersedia sebagai bentuk kemajuan teknologi memang akan sangat banyak membantu pekerjaan, bagi siapapun. Referensi pengetahuan di dunia maya hampir tidak terbatas, karena makin hari makin bertambah. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan baik. Internet bukan hanya tempat sosialisai semata, bukan sekedar tempat ikut-ikutan semata, bukan sekedar tempat kompetensi eksistensi semata.
Saya rasa kita sama-sama setuju, bahwa tidak begitu bijak menjadikan lahan komunikasi ini hanya untuk perilaku-perilaku semacam ini, sedangkan di tempat lain internet digunakan untuk mengirimkan data jumlah korban bencana alam, atau untuk berkomunikasi dengan supervisor untuk permasalahan disertasi penelitian, atau bahkan untuk merencanakan strategi militer yang menyangkut nyawa banyak orang.
Tapi apa yang saya sampaikan hanyalah sebuah bacaan kecil dari segala keperluan kita semua. Terlebih, masing-masing dari kita membayar biaya internet ini dengan uang kita masing-masing. So.. what the hell with this post?! :) Do everything you want to do... Silly Bandwagon!. :) Sekian.
Ditulis sebagai pengingat untuk saya, dan yang menginginkan.
Hak cipta gambar Follow the Leader ada pada www.tonynewlin.com
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar